Infonasionalnews - Menjelang peringatan 28 tahun Reformasi pada 21 Mei 2026, Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto menyebutkan ada empat tokoh sentral Reformasi yang hingga kini tetap mendapat penghormatan luas dari masyarakat, yakni Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Sri Sultan Hamengkubuwono X, serta almarhum Abdurrahman Wahid.

Diharapkan masyarakat agar tidak melupakan jasa para tokoh besar yang berperan dalam membuka jalan demokrasi di Indonesia.

“Bangsa Indonesia patut menghormati tokoh-tokoh Reformasi karena mereka memiliki kontribusi besar dalam memperjuangkan demokrasi, kebebasan pers, kebebasan berpendapat, dan kedaulatan rakyat,” kata Sugiyanto di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Sugiyanto menilai, keempat tokoh tersebut memiliki latar belakang berbeda, tetapi sama-sama memainkan peran penting dalam proses perubahan politik nasional yang mengakhiri rezim Orde Baru pada 1998.

Ia menjelaskan, Amien Rais saat itu tampil sebagai motor intelektual dan moral gerakan Reformasi. Sementara Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralisme, demokrasi, dan kemanusiaan yang dihormati lintas kelompok masyarakat.

“Megawati menjadi simbol perlawanan politik terhadap kekuasaan Orde Baru, terutama pasca-peristiwa penyerbuan kantor PDI pada 27 Juli 1996. Sedangkan Sri Sultan Hamengkubuwono X memiliki peran penting menjaga stabilitas Yogyakarta dan memberi dukungan moral terhadap gerakan Reformasi,” ujarnya.

Sugiyanto mengungkapkan dirinya turut mengikuti dinamika politik Reformasi sejak pertengahan 1990-an. Saat itu, ia aktif mendatangi Kantor PDI di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, untuk mengikuti mimbar bebas dan memberikan dukungan kepada kelompok oposisi yang dinilai mengalami tekanan politik pada masa Orde Baru.

Pasca-Reformasi, Sugiyanto juga terlibat dalam pendirian Partai Amanat Nasional yang dipelopori Amien Rais. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PAN DKI Jakarta selama dua periode sebelum akhirnya mundur dari aktivitas politik praktis beberapa tahun lalu.

Menurut Sugiyanto, Refornasi telah melahirkan perubahan besar dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, termasuk kebebasan pers, sistem multipartai, pemilihan presiden secara langsung, hingga pemilihan kepala daerah langsung.

“Tanpa perjuangan para tokoh Reformasi tersebut, sangat mungkin Indonesia tidak memiliki sistem demokrasi seperti sekarang. Karena itu, hasil Reformasi jangan sampai mengalami kemunduran,” katanya.

Ia menambahkan, wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009 menjadi kehilangan besar bagi demokrasi Indonesia. Meski demikian, pemikiran dan keteladanan Gus Dur tetap hidup di tengah masyarakat.

“Gus Dur dikenang sebagai tokoh pluralis dan humanis yang membela rakyat kecil tanpa membedakan agama, suku, maupun golongan,” ucapnya.

Sugiyanto berharap generasi muda Indonesia dapat memahami sejarah Reformasi secara utuh agar mampu menjaga demokrasi dan persatuan bangsa di masa mendatang.

“Perbedaan pandangan politij jangan sampai menghapus fakta sejarah bahwa para tokoh Reformasi memiliki jasa besar dalam perjalanan demokrasi Indonesia,” tandasnya.