Jakarta — Bergulirnya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seiring dimulainya tahun ajaran baru membawa angin segar bagi peternak unggas.
Setelah sempat tertekan akibat melemahnya permintaan, harga ayam hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak mulai menunjukkan tren kenaikan menuju kisaran harga yang lebih wajar.
Pergerakan harga tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan usaha peternak, terutama setelah beberapa pekan terakhir mereka menghadapi tekanan akibat rendahnya serapan pasar.
Dengan jutaan pelajar kembali menerima manfaat Program MBG, kebutuhan terhadap bahan pangan bergizi seperti telur dan daging ayam diperkirakan akan terus meningkat.
"Jadi MBG itu ada pengaruhnya. Mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini (harga telur dan ayam) sudah mulai naik," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, Rabu (15/7).
Data Bapanas menunjukkan rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak per 14 Juli mencapai Rp21.736 per kilogram (kg) berat hidup. Angka tersebut meningkat 4,11 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di level Rp20.878 per kg.
Meski demikian, kondisi harga masih bervariasi di sejumlah daerah. Di Sumatera Selatan, harga ayam broiler di tingkat peternak masih tercatat sekitar Rp18.125 per kg berat hidup.
Sementara di Riau, rata-rata harga telah mencapai Rp25.600 per kg, bahkan melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat produsen yang ditetapkan sebesar Rp25.000 per kg berat hidup.
Tren serupa juga mulai terlihat pada komoditas telur ayam ras. Per 14 Juli, rata-rata harga nasional berada di Rp22.644 per kg atau naik 0,66 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang masih Rp22.495 per kg.
Harga telur terendah tercatat di Banten sebesar Rp20.300 per kg, sedangkan harga tertinggi berada di Sulawesi Utara yang mencapai Rp28.200 per kg. Adapun HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp26.500 per kg.
Ketut menjelaskan, pelemahan harga yang terjadi sebelumnya juga dipengaruhi oleh faktor musiman, yakni bertepatan dengan bulan Suro yang identik dengan berkurangnya berbagai kegiatan masyarakat seperti hajatan atau pesta pernikahan.
Kondisi tersebut menyebabkan permintaan terhadap ayam dan telur ikut menurun sehingga harga di tingkat peternak terkoreksi.
"Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin itu relatif bulan Suro, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya kan terhenti, sehingga permintaan terkait dengan ayam itu relatif menurun, sehingga harga terkoreksi," ujarnya.
Ketut optimistis kombinasi berakhirnya periode bulan Suro dan meningkatnya kebutuhan pangan melalui Program MBG akan menjadi momentum pemulihan harga bagi peternak unggas nasional.

0Komentar