Infonasionalnews - Musim kemarau tidak hanya ditandai dengan meningkatnya suhu udara, tetapi juga berpotensi memperburuk kualitas udara. Debu, asap pembakaran, dan berbagai polutan yang meningkat di udara dapat terhirup dan memicu gangguan kesehatan, salah satunya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Ahli kesehatan Prof Budi Haryanto menjelaskan, kondisi udara yang cenderung kering pada musim kemarau membuat debu dan polutan lebih mudah berada di udara. Partikel tersebut kemudian brerpotensi masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup oleh masyarakat.

Menurut Budi, kualitas udara yang buruk juga dapat meningkatkan peluang virus dan bakteri masuk ke saluran pernapasan. Namun, munculnya infeksi turut bergantung pada kondisi daya tahan tubuh masing-masing individu.

"Karena itu masuk ke dalam tubuh manusia, tergantung orangnya. Daya tahan tubuhnya lagi bagus atau tidak. Itu yang kemudian menyebabkan infeksi-infeksi salurn napas yang antara lain adalah ISPA," jelas Prof Budi, melansir Antara, Sabtu (15/8/2026).

Selain ISPA, paparan polusi udara juga dapat menimbulkan dampak kesehatan lainnya. Budi mengingatkan risiko tersebut dapat menjadi lebih besar apabila polusi berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Asap karhutla diketahui dapat membawa berbagai senyawa yang berbahaya bagi tubuh, di antaranya karbon monoksida, metana, nitrogen oksida, dan sulgur dioksida. Paparan dalam jumlah tertentu dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan manusia.

“Paparan senyawa tersebut berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih luas, tidak hanya berupa infeksi atau gangguan pada saluran pernapasan,” jelas Prof Budi.

Peringatan mengenai dampak musim kemarau terhadap kesehatan sebelumnya juga disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko yang dapat muncul selama periode cuaca kering dan panas.

Deputi Bidang Klimatilogi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, berkurangnya tutupan awan pada musim kemarau dapat membuat suhu udara meningkat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan masyarakat selama periode kemarau.

Peningkatan suhu tidak hanya berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan akibat paparan panas, seperti sengatan panas, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Asa p dari kebakaran kemudian berpotensi menurunkan kualitas udara dan memperbesar risiko gangguan pada sistem pernapasan masyarakat. (Zat)