Infonasionalnews - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai perubahan cuaca meski kondisi kemarau mulai mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Cuaca diperkirakan bervariasi dari cerah berawan hingga hujan ringan di sejumlah daerah.

Potensi hujan dengan intensitas lebat masih dapat terjadi di wilayah Sumatra, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena hujan deras dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di daerah yang terdampak.

Selain hujan lebat, ancaman angin kencang juga perlu menjadi perhatian. BMKG mncatat sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut, yakni Aceh, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.

BMKG juga meminta masyarakat memperhatikan kondisi tubuh selama beraktivitas di tengah cuasca panas. Penggunaan pelindung atau tabir surya serta pemenuhan kebutuhan cairan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan sinar matahari dan dehidrasi.

Memasuki periode kemarau yang lebih dominan, persoalan ketersediaan air juga menjadi perhatian. BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah menggunakan air bersih secara bijak untuk mengantisipasi kemiungkinan terjadinya kekeringan.

Kondisi lingkungan yang semakin kering turut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, aktivitas yang dapat memicu munculnya api, terutama di kawasan yang mudah terbakar, perlu dihindari.

Wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sementara itu, kewaspadaan terhadap angin kencang diperlujan di Aceh, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar secara sembarangan. Lahan gambut, semak belukar, dan kawasan hutan yang kering memiliki risiko tinggi menghgalami kebakaran yang dapat meluas dengan cepat.

Selain ancaman cuaca ekstrem, masyarakat diminta mewaspadai dampak lokal seperti pohon dan dahan tumbang, baliho roboh, genangan air, hingga sambaran petir. Risiko tersebut dapat meningkat ketika hujan dan angin kencang terjadi secara tiba-tiba.

BMKG menegaskan bahwa musim kemarau bukan berarti seluruh wilayah Indonesia terbebas dari hujan. Hujan ringan hingga sedang yang disertai kilat dan angin kencang masih berpotensi muncul secara lokal sehingga perubahan kondisi cuaca perlu terus diperhatikan.

Saat cuaca buruk terjadi, masyarakat dianjurkan tidak berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang kondisinya rapuh. Langkah tersebut penting untuk menghindari risuiko tertimpa benda atau bangunan yang roboh akibat terpaan angin.

BMKG juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api atau hotspot di sekitar hutan dan lahan gambut kepada petugas terkait. Kewaspadaan dan respons cepat masyarakat dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas serta mengurangi dampak cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi. (Zat)