Infonasionalnews - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga kini masih menyisakan sejumlah titik api aktif. Luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 899,35 hektare sejak kebakaran pertama kali terjadi pada 3 Agustus 2026.
Satgas Gabungan terus melakukan penanganan dengan mengerahkan personel di sejumlah sektor. Meski penyebaran api secara umum telah berhasil dikendalikan, kondisi di lapangan masih membutuhkan kewaspadaan tinggi untuk mencegah munculnya kembali kobaran api.
Medan yang terjal, kondisi vegetasi yang kering, serta angin kencang menjadi sejumlah kendala utama dalam proses pemadaman. Kondisi tersebut membuat api di beberapa lokasi masih berpotensi bertahan dan kembali menjalar ke kawasan vegetasi yang belum terdampak.
Komandan Sektor Penanganan Karhutla TNBTS sekaligus Danrem 083/Bdj, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, luas area yang terbakar berdasarkan perkiraan sementara mencapai 899,35 hektare. Saat ini, tim gabungan dari kementerian, lembaga, TNI/Polri, pemerintah daerah dan relawan diarahkan untuk menangani titik api yang masih aktif.
"Fokus intervensi saat ini menyisakan titik api aktif, yaitu di Watangan seluas 817,342 hektare, Argowulan 25,393 hektare, serta kawasan Dingklik, Pakis Bincil, dan Mungal seluas 56,65 hektare," kata Wahyu kepada wartawan, Selasa (11/8/2026).
Selain pengeraha personel di darat, upaya pemadaman juga dilakukan melalui operasi udara menggunakan helikopter water bombing. Namun, pelaksanaan pemadaman dari udara tidak selaku berjalan optimal karena kondisi cuaca yang berubah-ubah di kawasan pegunungan.
"Hari ini kami mengoptimalkan dua unit helikopter untuk water bombing dari sebelumnya tiga unit, menyesuaikan dengan dinamika cuaca dan visual pilot di lapangan. Prioritas kami adalah memutus jalur rambatan agar tifak meluas ke area vegetasi baru," jelasnya.
Pemadaman juga diarahkan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala setelah titik kebakaran berhasil ditangani. Untuk itu, Posko Terpadu di bawah pimpinan Dandim 0820/Probolinggo, Letkol Inf Ribut Yodo Aprianto, menyiapkan pola penanganan lanjutan di wilayah terdampak.
Wahyu menjelaskan, proses pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala, terutama angin kencang dan kondisi cuaca kemarau. Selain itu, kabut tebal yang turun secara tiba-tiba turut membatasi jarak pandang pilot sehihgga memengaruhi pelaksanaan water bombing.
Kondisi tersebut membuat strategi pemadaman harus disesuaikan dengan perkembangan cuaca dan situasi titik api di lapangan. Dua unit helikopter yang dioperasikan saat ini diprioritaskan untuk menghentikan jalur rambatan api agar kebakaran tidak menjangkau vegetasi baru.
Berdasarkan analisa awal, faktor alam dinilai memiliki kemungkinan kecil menjadi pemicu utama kebakaran. Hal itu mempertimbangkan karakteristik kawasan Bromo yang masih memiliki tingkat kelembapan tertentu meskipun saat ini memasuki musim kemarau. Untuk mengantisipasi kebakaran kembali terjadi, Posko Terpadu menyiapkan patroli terpadu secara berkala, penempatan personel gabungan, serta penguatan manajemen informasi publik. (Zat)
0Komentar