DEKANNEWS, PROBOLINGGO - Dampak kemarau panjang mulai terasa di sebagian wilayah termasuk di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Akibat kemarau, sebanyak 19 desa yang tersebar di 7 kecamatan kini mengalami krisis air bersih yang ekstrem.
Masyarakat terpaksa bergantung sepenuhnya pada droppinh air bersih dari BPBD lantaran sumber air warga telah mengering total selama kurang lebih dua bulan terakhir.
Misalnya saja Dusun Paoan, Desa Tegalsono. Di tempat tersebut distribusi 10.000 liter air bersih untuk masyarakat. Warga membawa berbagai wadah mulai dari jeriken hingga galon demi mendapatkan jatah air untuk kebutuhan minum dan memasak.
BPBD Kabupaten Probolinggo juga mengungkapkan rencana jangka panjang dengan mengusulkan pembangunan 17 titik sumur bor di wilayah terdampak untuk mengatasi masalah tahunan ini.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief menegaskan, pihaknya mendistribusikan air sebagai kebutuhan masyarakat terdampak kemarau. Namun sebelum air dikirimkan ke wilayah Terdampak, pihaknya melakukan pemetaan wilayah untuk menentukan prioritas distribusi bantuan.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat yang memang harus terpenuhi. Pemetaan wilayah terdampak membantu kami menentukan skala prioritas agar distribusi air mengucur ke daerah yang paling mendesak,” tegas Oemar.
Selain penanganan darurat melalui distribusi air bersih, Pemerintah Kabupaten Probolinggo menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan yang berulang setiap musim kemarau. Pemkab merencanakan pembangunan 17 titik sumur bor di kawasan yang rawan kekeringan ekstrem.
"Langkah ini diharapkan menjadi sumber air alternatif permanen bagi warga, sehingga kemandirian air bersih di wilayah terdampak dapat terwujud tanpa harus terus bergantung pada bantuan armada tangki setiap musim kemarau tiba," tambahnya.
0Komentar