Riyono menyoroti adanya penyesuaian alokasi bahan bakar minyak dalam APBN, khususnya solar subsidi untuk nelaysn di bawah 30 GT yang tercatat mengalami sedikit penurunan sekitar 1,3 persen dibanding tahun 2025.
Ia menjelaskan, pada 2025 alokasi solar subsidi mencapai 18,41 juta KL dengan realisasi 18,88 juta KL atau melebihi kuota. Sementara pada 2023, alokasi sebesar 17,40 juta KL dengan realisasi 17,62 juta KL atau sekitar 92,7 persen.
“Solar subsidi untuk nelayan dengan harga 6.800/liter pemerintah memberikan subsidi 1.000 rupiah/liter. Harusnya solar subsidi harganya 7.800/liter. Harga ini masih terjangkau dan meringankan para nelayan kecil kita,” kata Riyono dikutip Kamis (7/5).
Menurutnya, kehadiran negara sangat penting untuk memastikan nelayan kecil tetap bisa bertahan di tengah ketidakpastian harga energi. Ia menegaskan perlunya respons cepat pemerintah terhadap dinamika tersebut.
“90 persen protein dunia dari ikan dan hasil laut dihasilkan oleh nelayan kecil kita, artinya keberadaan mereka untuk tetap bisa bekerja dan melaut akan melindungi hampir 3 juta rumah tangga nelayan,” ujarnya.
Riyono menambahkan, stabilitas akses energi bagi nelayan menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan berbasis laut serta keberlangsungan ekonomi rumah tangga nelayan di Indonesia.
0Komentar