Jakarta - Upaya peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang terus menjadi perhatian serius di Indonesia, seiring tingginya angka kecelakaan yang masih terjadi. PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat ada 3.674 perlintasan sebidang di seluruh wilayah, dengan 1.810 titik masuk dalam prioritas penanganan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 172 perlintasan direncanakan untuk ditutup karena dinilai memiliki keterbatasan yang berisiko tinggi. Sementara itu, 1.638 titik lainnya akan ditingkatkan fasilitas keselamatannya secara bertahap.
Data periode 2023 hingga 2026 menunjukkan terdapat 948 korban akibat kecelakaan di perlintasan sebidang. Menariknya, sekitar 80 persen insiden terjadi di perlintasan yang belum memiliki penjagaan, menegaskan pentingnya pengawasan di titik-titik tersebut.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Allan Tandiono, menjelaskan bahwa perlintasan sebidang merupakan titik kritis karena mempertemukan dua sistem transportasi dengan karakter berbeda. Kereta api memiliki keterbatasan untuk berhenti mendadak, sementara arus lalu lintas jalan cenderung dinamis.
“Jika tidak dikelola dengan baik, risikonya sangat tinggi,” ujarnya di Jakarta dikutip Rabu (6/5).
Menurutnya, risiko tinggi di perlintasan ini hanya bisa ditekan melalui pengelolaan yang terintegrasi. Penanganan tidak cukup dilakukan oleh satu pihak, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, operator, hingga masyarakat.
Pendekatan yang diambil mencakup penutupan perlintasan berisiko tinggi, peningkatan sistem keselamatan, serta pembangunan perlintasan tidak sebidang sebagai solusi jangka panjang.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menambahkan bahwa fokus utama saat ini adalah percepatan implementasi di lapangan. Langkah tersebut mencakup penutupan ratusan perlintasan yang telah diidentifikasi serta peningkatan penjagaan di berbagai titik rawan.
Ia menegaskan bahwa keberadaan petugas di perlintasan terbukti efektif dalam menekan angka kecelakaan. Oleh karena itu, penguatan penjagaan akan dibarengi dengan peningkatan pengawasan dan pemanfaatan teknologi.
Ke depan, KAI juga akan mengoptimalkan penggunaan teknologi keselamatan, seperti sistem komunikasi berbasis GPS dan otomatisasi operasional, guna meningkatkan respons terhadap potensi risiko di perlintasan sebidang.

0Komentar