Oleh : Sugiyanto (SGY)
Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (HASRAT)

Dalam perjalanan sejarah dunia, hampir setiap zaman selalu melahirkan tokoh-tokoh yang berani mengkritik penguasa, mengoreksi arah kebijakan negara, dan menyuarakan kepentingan rakyat. Kehadiran tokoh kritis bukanlah sebuah penyimpangan, melainkan bagian penting dari proses perbaikan peradaban. Karena itu, masyarakat tidak perlu cemas apabila suatu saat seorang pengkritik kehilangan pengaruh atau meredup. Sejarah menunjukkan bahwa ketika satu tokoh pergi, akan muncul tokoh lain yang mengambil peran serupa. Seolah-olah sejarah selalu menghadirkan penyeimbang bagi kekuasaan.

Dalam sejarah dunia, terdapat nama-nama besar seperti Socrates di Yunani Kuno, Voltaire di Prancis, Thomas Paine di Amerika Serikat, Mahatma Gandhi di India, Nelson Mandela di Afrika Selatan, hingga Václav Havel di Ceko. Siapakah mereka? Mereka adalah tokoh-tokoh yang berani, berpengaruh, dan memiliki keberanian luar biasa dalam mengkritik ketidakadilan serta memperjuangkan perubahan bagi masyarakat dan bangsanya.

Socrates, yang hidup sekitar 470 SM hingga 399 SM, adalah filsuf besar dari Athena yang dikenal sebagai Bapak Filsafat Barat. Ia mengubah arah pemikiran filsafat yang sebelumnya berfokus pada alam semesta menjadi berpusat pada manusia, moralitas, dan etika. Socrates tidak meninggalkan karya tulis, sehingga pemikirannya dikenal dunia melalui catatan, terutama Plato. 

Plato sendiri dikenal sebagai filsuf yang sangat cerdas dan berpengaruh dalam sejarah pemikiran dunia. Ia merupakan murid Socrates yang kemudian mendirikan Akademi di Athena, salah satu lembaga pendidikan tinggi pertama di dunia Barat. Plato selanjutnya mendidik Aristoteles, sehingga Socrates, Plato, dan Aristoteles dikenal sebagai tiga pilar utama filsafat Yunani Klasik yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, etika, politik, dan filsafat hingga masa kini.

Pada tahun 399 SM, Socrates dituduh merusak moral generasi muda Athena dan tidak menghormati dewa-dewa yang diakui negara. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun hemlock. Meskipun memiliki kesempatan untuk melarikan diri, Socrates memilih menerima hukuman tersebut daripada mengingkari prinsip, keyakinan, dan ajaran filosofis yang selama ini diperjuangkannya. Sikapnya itu menjadikan Socrates dikenang sebagai simbol integritas, keberanian moral, dan kesetiaan terhadap kebenaran.

Voltaire merupakan filsuf, penulis, dan pemikir besar pada Era Pencerahan yang sangat vokal mengkritik monarki absolut, penyalahgunaan kekuasaan, serta intoleransi agama. Melalui berbagai karya dan pemikirannya, ia memperjuangkan kebebasan berbicara, kebebasan beragama, dan supremasi hukum. Gagasan-gagasannya kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi penting bagi lahirnya Revolusi Prancis.

Thomas Paine adalah intelektual dan penulis pamflet revolusioner yang berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat. Karyanya yang berjudul Common Sense menjadi salah satu pemicu utama tumbuhnya semangat rakyat Amerika untuk melepaskan diri dari Kekaisaran Inggris dan mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1776.

Mahatma Gandhi dikenal sebagai pemimpin spiritual dan politik yang mempelopori perjuangan kemerdekaan India dari penjajahan Inggris. Ia terkenal dengan prinsip Ahimsa (tanpa kekerasan) dan Satyagraha (perlawanan damai melalui kekuatan moral), yang kemudian menginspirasi berbagai gerakan hak sipil dan perjuangan kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

Nelson Mandela adalah pejuang anti-apartheid yang dipenjara selama 27 tahun karena menentang sistem diskriminasi rasial di Afrika Selatan. Setelah dibebaskan, ia memimpin proses rekonsiliasi nasional dan menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan. Mandela kemudian dikenang sebagai simbol global perjuangan untuk keadilan, kesetaraan, dan persatuan bangsa.

Václav Havel merupakan penulis drama, intelektual, aktivis prodemokrasi, sekaligus negarawan yang memainkan peran penting dalam Revolusi Beludru tahun 1989. Revolusi yang berlangsung secara damai tanpa pertumpahan darah tersebut berhasil mengakhiri rezim komunis di Cekoslowakia. Setelah itu, Havel terpilih sebagai presiden dan menjadi salah satu simbol keberhasilan transisi menuju demokrasi di Eropa Timur.

Mereka semua dikenang sebagai tokoh yang berani mengkritik sistem yang dianggap tidak adil. Sebagian di antara mereka harus menghadapi penjara, pengasingan, diskriminasi, sensor, bahkan ancaman terhadap keselamatan jiwa. Namun, sejarah kemudian mencatat bahwa kritik, gagasan, dan perjuangan mereka telah memberikan kontribusi besar terhadap perubahan sosial, politik, dan kemanusiaan, baik di negaranya masing-masing maupun di dunia secara luas. Kehadiran tokoh-tokoh kritis semacam ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab sering kali menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong kemajuan peradaban.

Di Nusantara, tradisi kritik terhadap kekuasaan juga telah berlangsung sejak lama. Pada masa kerajaan, terdapat tokoh-tokoh yang berani memberikan nasihat dan kritik kepada raja demi menjaga keadilan serta kesejahteraan rakyat. Pada masa kolonial Hindia Belanda, lahir tokoh-tokoh pergerakan seperti Ki Hajar Dewantara, Ernest Douwes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Soekarno yang secara terbuka mengkritik penjajahan serta ketidakadilan kolonial. Siapakah mereka? Mereka adalah tokoh-tokoh penting dalam pergerakan nasional yang berjasa besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tiga di antaranya, yaitu Ki Hajar Dewantara, Ernest Douwes Dekker, dan dr. Cipto Mangunkusumo, dikenal sebagai “Tiga Serangkai”, pelopor gerakan nasionalisme modern yang mendirikan Indische Partij pada tahun 1912.

Ki Hajar Dewantara (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat) dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Ia mendirikan Perguruan Taman Siswa dan melalui berbagai tulisan kritisnya menentang kebijakan kolonial Belanda. Semboyan pendidikannya yang terkenal adalah “Ing Ngarsa Sung Tuladha” (di depan memberi teladan), “Ing Madya Mangun Karsa” (di tengah membangun semangat), dan “Tut Wuri Handayani” (di belakang memberi dorongan).

Ernest Douwes Dekker, yang kemudian dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi, merupakan tokoh nasionalis keturunan Indo-Belanda yang sangat menentang kolonialisme. Bersama Ki Hajar Dewantara dan dr. Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan Indische Partij pada 25 Desember 1912. Sebagai seorang jurnalis dan aktivis politik, ia dikenal berani mengkritik pemerintah kolonial Belanda serta memperjuangkan persatuan seluruh penduduk Hindia Belanda tanpa membedakan latar belakang etnis.

dr. Cipto Mangunkusumo adalah seorang dokter sekaligus tokoh pergerakan yang dikenal tegas dalam menentang penjajahan. Sebagai salah satu pendiri Indische Partij, ia aktif menyuarakan kritik terhadap berbagai bentuk penindasan kolonial. Sejak menempuh pendidikan di STOVIA, ia telah dikenal sebagai intelektual yang berani dan kritis. Karena aktivitas politiknya, ia beberapa kali mengalami pengasingan oleh pemerintah Belanda.

Soekarno atau Bung Karno adalah Proklamator Kemerdekaan sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Ia memimpin perjuangan nasional sejak masa pergerakan hingga berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bersama Mohammad Hatta. Sebagai seorang orator ulung dan pemimpin karismatik, Soekarno menggagas Pancasila sebagai dasar negara serta berhasil membangkitkan dan menyatukan semangat nasionalisme rakyat Indonesia dalam perjuangan menuju kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka, tradisi kritik terhadap kekuasaan tetap hidup dan menjadi bagian penting dari dinamika demokrasi. Pada era Orde Lama, berbagai intelektual, mahasiswa, dan tokoh politik turut menyampaikan kritik serta koreksi terhadap kebijakan pemerintah. Memasuki era Orde Baru, kritik disuarakan oleh tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir, Sri Bintang Pamungkas, Abdurrahman Wahid, Amien Rais, serta banyak aktivis mahasiswa yang kemudian menjadi bagian penting dalam lahirnya Reformasi 1998.

Pada era Reformasi, ruang kebebasan berpendapat semakin terbuka. Berbagai akademisi, ekonom, aktivis, pengamat, tokoh masyarakat, hingga media massa memiliki kesempatan yang lebih luas untuk menyampaikan pandangan, kritik, dan masukan kepada pemerintah maupun publik. Kehadiran mereka menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan demokrasi serta mendorong perbaikan kebijakan publik.

Mengenai tokoh-tokoh yang telah disebutkan, tidak perlu dijelaskan secara panjang lebar karena sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengenal kiprah dan kontribusi mereka. Selain itu, beberapa di antaranya masih hidup dan tetap menjadi bagian dari perjalanan demokrasi Indonesia hingga saat ini. Bahkan Sri Bintang Pamungkas dan Amien Rais masih konsisten menyampaikan kritik terhadap pemerintah apabila kebijakan yang diambil dinilai keliru atau tidak sejalan dengan kepentingan rakyat.

Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, salah satu tokoh yang dikenal luas karena kritik-kritiknya terhadap pemerintah adalah Rocky Gerung. Ia dikenal dengan gaya bicara yang tajam, provokatif, argumentatif, dan sering memicu perdebatan publik. Sejumlah pernyataannya kerap menjadi sorotan, termasuk penggunaan istilah “dungu” yang pernah menimbulkan polemik di ruang publik.

Banyak orang mengagumi keberaniannya dalam mengkritik kebijakan pemerintah dan menyampaikan pandangan yang berbeda dari arus utama. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang tidak sependapat dengan pandangan maupun gaya penyampaiannya. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa Rocky Gerung merupakan salah satu suara kritis yang paling menonjol pada masanya dan turut mewarnai dinamika demokrasi serta diskursus publik di Indonesia.

Memasuki era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, muncul nama yang semakin sering menjadi perhatian publik, khususnya dalam bidang ekonomi, yaitu Profesor Ferry Latuhihin. Dengan latar belakang akademik dan pengalaman panjang di bidang ekonomi makro serta pasar modal, Ferry tampil sebagai sosok yang berani menyampaikan pandangan secara terbuka, lugas, dan mudah dipahami masyarakat.

Gaya komunikasi Ferry Latuhihin memiliki ciri khas tersendiri. Ia tidak hanya berbicara dengan bahasa akademik, tetapi juga menggunakan berbagai analogi yang menarik perhatian publik. Istilah-istilah seperti “ide gila”, “rumah kuntilanak”, “bakar uang, “perampokan”, dan berbagai metafora lainnya membuat pembahasan ekonomi yang rumit menjadi lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam. Karena itu, banyak orang mengikuti pandangan-pandangannya melalui YouTube, TikTok, podcast, dan berbagai platform digital lainnya.

Sejumlah kritik yang disampaikan Ferry Latuhihin terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto banyak berfokus pada bidang ekonomi. Ia mengkritisi pendirian Danantara, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), kondisi nilai tukar rupiah, pasar modal, kebijakan fiskal, utang negara, program perumahan, serta tata kelola investasi negara.

Menurut Ferry, beberapa program strategis pemerintah dijalankan terlalu cepat dan cenderung sentralistis tanpa didahului kajian yang mendalam, riset yang komprehensif, serta proyek percontohan (pilot project) yang memadai. Ia berpendapat bahwa kebijakan berskala nasional seharusnya diuji terlebih dahulu secara bertahap agar risiko kesalahan implementasi dapat diminimalkan dan penggunaan anggaran negara menjadi lebih efektif.

Pandangan tersebut juga mendapat perhatian dari sejumlah akademisi dan pengamat ekonomi yang menilai bahwa berbagai program nasional perlu dievaluasi secara berkala berdasarkan data, indikator kinerja yang terukur, serta prinsip tata kelola yang baik guna memastikan tujuan pembangunan dapat tercapai secara optimal.

Dalam berbagai kesempatan, Ferry juga mengkritik penggunaan indikator ekonomi yang menurutnya kurang mencerminkan kondisi riil perekonomian. Ia menilai pemerintah perlu lebih memperhatikan indikator seperti nilai tukar rupiah, IHSG, obligasi negara, pertumbuhan kredit, sektor properti, penerimaan pajak, dan aktivitas dunia usaha sebagai dasar penyusunan kebijakan ekonomi. 

Terkait pelemahan rupiah, Ferry berpendapat bahwa faktor domestik memiliki pengaruh besar terhadap menurunnya kepercayaan investor. Ia menilai kebijakan yang tidak ramah terhadap dunia usaha dapat memicu keluarnya modal dari Indonesia. Ia juga mengingatkan pentingnya pemerintah mendengarkan berbagai masukan dari kalangan akademisi, pelaku usaha, dan pasar. 

Mengenai Program Makan Bergizi Gratis, Ferry beberapa kali menyampaikan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pembiayaan program apabila terlalu bergantung pada penambahan utang negara. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara tujuan sosial yang mulia dan kemampuan fiskal negara agar tidak menimbulkan risiko jangka panjang bagi perekonomian nasional. 

Ferry juga menyoroti berbagai pernyataan pejabat negara yang menurutnya kurang memperhatikan dampak ekonomi terhadap masyarakat. Dalam isu nilai tukar rupiah misalnya, ia berpendapat bahwa kenaikan dolar AS pada akhirnya akan memengaruhi harga barang dan biaya hidup masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pedesaan. 

Meskipun kritik-kritiknya sering terdengar keras, saya secara pribadi meyakini bahwa tujuan utama Profesor Ferry Latuhihin bukanlah untuk menjatuhkan pemerintahan, dan hal tersebut juga telah beberapa kali ia sampaikan. Sebaliknya, kritik-kritik tersebut dapat dipandang sebagai bentuk kecintaan terhadap Indonesia serta keinginan agar kebijakan publik menjadi lebih efektif, efisien, dan berpihak pada kepentingan jangka panjang bangsa.

Dalam sistem demokrasi, kritik yang disampaikan berdasarkan data, argumentasi yang rasional, serta niat untuk memperbaiki keadaan merupakan bagian penting dari mekanisme pengawasan publik. Kritik semacam itu tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai masukan yang dapat membantu pemerintah mengevaluasi dan menyempurnakan kebijakan demi kepentingan masyarakat luas.

Lalu, siapakah sebenarnya sosok pengkritik yang dikenal logis dan kerap bersikap kritis tersebut?

Saya ingin berbagi sedikit informasi tentang beliau berdasarkan apa yang saya ketahui. Semoga informasi yang saya sampaikan ini benar dan dapat memberikan gambaran yang objektif.

Prof. Ferry Latuhihin merupakan alumnus Erasmus University Rotterdam, Belanda. Beliau menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor (S3) di universitas riset publik ternama tersebut. Latar belakang akademik yang kuat ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya sebagai ekonom dan pakar kebijakan ekonomi.

Selain riwayat akademiknya di Belanda, rekam jejak profesional Prof. Ferry juga cukup panjang dan beragam. Ia memiliki pengalaman internasional dengan pernah berkarier di Wall Street serta bekerja di Lehman Brothers, yang pada masanya merupakan salah satu institusi keuangan terbesar di dunia. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman yang mendalam mengenai dinamika ekonomi global, pasar keuangan, dan investasi internasional.

Di Indonesia, Ferry Latuhihin pernah menjabat sebagai Chief Economist di Tanamduit, perusahaan teknologi finansial (fintech) yang bergerak di bidang investasi. Jauh sebelum namanya dikenal luas oleh publik, ia juga pernah menduduki posisi Chief Economist di Bank International Indonesia (BII), yang kini dikenal sebagai Maybank Indonesia. Selain itu, ia pernah tergabung dalam Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN), sehingga memiliki pengalaman dalam memberikan masukan dan analisis terkait kebijakan publik maupun ekonomi nasional.

Dengan kombinasi latar belakang akademik yang kuat, pengalaman di sektor keuangan global, dunia perbankan, industri investasi, serta keterlibatan dalam perumusan kebijakan, tidak mengherankan apabila pandangan dan kritik-kritik yang disampaikannya sering mendapat perhatian luas dari masyarakat maupun para pengambil kebijakan.

Secara pribadi, saya menilai Ferry Latuhihin sebagai salah satu ekonom yang memiliki keberanian intelektual untuk menyampaikan pandangan yang berbeda dari arus utama. Terlepas dari apakah seluruh pendapatnya benar atau tidak, keberanian untuk menyampaikan analisis berdasarkan data, fakta, dan logika merupakan sikap yang patut dihargai. Dalam negara demokrasi, kemajuan sering kali lahir dari perdebatan yang sehat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat sipil.

Bahkan, saya menilai Prof. Ferry Latuhihin layak disebut sebagai salah satu guru ekonomi bangsa. Kemampuannya menjelaskan persoalan ekonomi dengan bahasa yang lugas, kritis, dan mudah dipahami publik telah memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan literasi ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, terlepas dari perbedaan pandangan yang mungkin ada, dedikasi dan keberaniannya dalam menyampaikan gagasan patut mendapatkan apresiasi. Respek untuk Prof. Ferry Latuhihin!

Karena itu, tidak berlebihan apabila banyak pihak berharap pemikiran-pemikiran Ferry Latuhihin dapat didengar oleh para pengambil kebijakan. Baik sebagai penasihat, anggota tim ahli, maupun dalam posisi strategis lainnya, gagasan yang konstruktif selalu layak dipertimbangkan demi kemajuan Indonesia. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak intelektual yang berani berbicara berdasarkan ilmu pengetahuan, data, fakta, serta menawarkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.