INFONASIONALNEWS - Seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) kini berada dalam periode musim kemarau. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena sejumlah daerah mulai mengalami hari tanpa hujan dalam durasi panjang yang berpotensi memicu kekeringan ekstrem dan meningkatkan kebutuhan air bersih masyarakat.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I NTB, Nuga Putrantijo, menyebut sebanyak 27 Zona Musim (ZOM) di NTB telah terkonfirmasi memasuki musim kemarau sejak dasarian pertama Juni 2026. Kondisi ini menandakan sebagian besar wilayah NTB kini menghadapi periode kering yang perlu diantisipasi, terutama di daerah dengan cadangan air terbatas.

“Seluruh wilayah di NTB saat ini telah resmi berada pada periode musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino,” kata Nuga dalam informasi iklim dasarian BMKG, Kamis (20/8/2026).

El Nino Sangat Kuat

Tekanan terhadap kondisi iklim NTB juga dipengaruhi dinamika atmosfer yang menunjukkan penguatan fenomena El Nino. Berdasarkan pemantauan BMKG, indeks anomali suhu muka laut Nino3.4 tercatat mencapai +2,45 atau berada dalam kategori El Nino sangat kuat.

BMKG memprediksi El Nino 2026 berpotensi mencapai level sangat kuat. Fenomena tersebut dapat memperpanjang periode kering sekaligus menekan peluang terbentuknya hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk NTB.

Sementara itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada dalam kategori netral dengan nilai +0,715. Namun, kondisi tersebut diperkirakan berpeluang bergerak menuju fase positif pada September hingga Desember 2026.

Kondisi laut di sekitar Indonesia turut menjadi perhatian. Pada Agustus-November, anomali suhu muka laut diprediksi berada pada kondisi normal hingga lebih dingin dengan kisaran -0,5 hingga 0,2 derajat Celsius. Perairan Indonesia diperkirakan mulai menghangat pada Desember.

Peluang Hujan Menipis

Memasuki dasarian kedua Agustus atau periode 11-20 Agustus 2026, peluang hujan di seluruh wilayah NTB diperkirakan kurang dari 10 persen. Kondisi ini menunjukkan potensi turunnya hujan dalam waktu dekat masih sangat kecil.

Pada dasarian pertama Agustus, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB juga berada pada kategori rendah, yakni hanya 0-10 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi tercatat sebesar 47 milimeter per dasarian di Pos Hujan Kokok Putih, Sembalun.

Secara umum, sifat hujan pada periode tersebut didominasi kategori bawah normal. Meski terdapat sejumlah wilayah dengan kondisi normal hingga atas normal, indikator kekeringan semakin terlihat dari pemantauan hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) yang terjadi di sejumlah wilayah NTB. (Zat)